Pagi Ini Aku Disuruh Makan di Dapur Lagi

Aku menulis ini malam-malam.

Sekarang sudah hampir jam sebelas.

Rumah sudah sepi. Dimas sudah tidur, sementara aku masih duduk di pinggir tempat tidur sambil mengusap perutku.

Hari ini sebenarnya tidak ada kejadian yang luar biasa.

Tidak ada pertengkaran besar.

Tidak ada orang yang berteriak.

Tapi entah kenapa aku merasa sangat lelah.

Bukan badan saja.

Pikiran juga.

Pagi tadi aku bangun sekitar jam enam.

Perutku terasa lapar, jadi setelah mandi aku langsung turun ke bawah.

Dimas masih tidur waktu itu.

Aku membuat sarapan sederhana untuk diriku sendiri.

Aku memang tidak terlalu pintar memasak makanan yang macam-macam. Sejak menikah, aku lebih sering memasak makanan sederhana.

Pagi itu aku cuma membuat telur, nasi, dan sayur.

Setelah selesai, aku membawa piring ke ruang makan.

Ibu mertua sudah duduk di sana.

Aku tersenyum.

“Pagi, Bu.”

Dia hanya melihatku sebentar.

Aku kemudian menarik kursi.

Belum sempat duduk, dia berkata,

“Rani, kamu makan di dapur saja.”

Aku terdiam.

“Di dapur, Bu?”

“Iya.”

Aku melihat meja makan.

Kemudian melihat Dimas yang baru saja keluar dari kamar.

Aku berharap dia mengatakan sesuatu.

Tapi Dimas hanya duduk.

Aku akhirnya membawa piringku ke dapur.

Sebenarnya aku tidak marah.

Aku sudah terlalu sering mengalami hal seperti itu.

Yang membuatku sedih adalah perasaan seperti tidak dianggap sebagai bagian keluarga.

Padahal aku sudah menjadi istri Dimas.

Aku juga sedang mengandung anaknya.

Aku duduk di dapur dan mulai makan.

Tanganku sesekali mengusap perut.

Bayiku bergerak.

Aku tersenyum sendiri.

“Yang penting anakku kenyang.”

Aku mengatakan itu pelan.

Setelah sarapan, aku mencuci piring.

Kemudian aku naik ke kamar dan membereskan tempat tidur.

Sekitar jam sepuluh, Dimas masuk kamar.

Dia melihatku sedang melipat pakaian.

“Kamu sudah makan?”

Aku mengangguk.

“Sudah.”

“Di mana?”

Aku berhenti melipat pakaian.

“Di dapur.”

Dimas diam.

Aku menatapnya.

“Mas.”

“Iya?”

“Kenapa kamu tadi diam?”

Dia menghela napas.

“Maksud kamu?”

“Waktu ibu menyuruh aku makan di dapur.”

Dimas duduk di ujung tempat tidur.

“Ran, jangan diperbesar.”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku hanya menatap pakaian yang ada di tanganku.

“Aku nggak memperbesar.”

“Ya sudah.”

Aku menarik napas.

“Aku cuma ingin kamu membelaku sekali saja.”

Dimas terdiam.

Aku bisa melihat dia merasa tidak nyaman.

Tapi kemudian dia berkata,

“Ibu memang begitu. Kamu sudah tahu.”

Kalimat itu justru membuatku semakin sedih.

Karena ternyata dia tahu.

Dia tahu bagaimana ibunya memperlakukanku.

Tapi dia memilih diam.

Aku tidak mau bertengkar.

Jadi aku kembali melipat pakaian.

Siang harinya aku lebih banyak berada di kamar.

Aku membaca beberapa pesan dari teman-temanku.

Ada yang bertanya bagaimana kehamilanku.

Aku jawab baik-baik saja.

Aku tidak pernah cerita tentang masalah di rumah kepada mereka.

Aku malu.

Menjelang sore, Dimas mengajakku keluar sebentar membeli buah.

Aku senang sebenarnya.

Kami pergi berdua.

Di dalam mobil, aku tidak banyak bicara.

Dimas akhirnya bertanya,

“Kamu masih kepikiran soal pagi tadi?”

Aku menggeleng.

“Nggak.”

Dia tahu aku berbohong.

“Rani.”

Aku melihat keluar jendela.

“Aku cuma capek, Mas.”

“Capek apa?”

Aku tersenyum kecil.

“Capek harus selalu merasa salah.”

Dimas tidak menjawab.

Beberapa menit kemudian dia menggenggam tanganku.

Aku tidak menariknya.

Entah kenapa, meskipun sering kecewa, aku masih menyayangi suamiku.

Mungkin itu yang membuat semuanya terasa lebih sulit.

Malamnya kami kembali ke rumah.

Ibu mertua sedang menonton televisi.

Aku membawa buah yang kami beli.

Dia melihat kantong belanjaan.

“Kalian beli apa?”

“Buah, Bu,” jawab Dimas.

Dia mengangguk.

Aku kemudian masuk kamar.

Sekitar pukul sembilan malam, Dimas masuk.

Dia duduk di sampingku.

“Maaf.”

Aku menoleh.

“Untuk apa?”

“Untuk tadi pagi.”

Aku tidak menyangka dia akan mengatakan itu.

Aku diam beberapa detik.

Kemudian aku berkata,

“Aku nggak butuh kamu melawan ibu.”

Dimas melihatku.

“Aku cuma butuh kamu jangan membuat aku merasa sendirian.”

Dia tidak menjawab.

Tapi malam itu dia memelukku.

Aku menangis sebentar.

Bukan karena semuanya sudah selesai.

Tapi karena setidaknya malam itu aku merasa didengar.

Aku tahu masalahku dengan ibu mertua belum selesai.

Mungkin besok akan ada lagi.

Tapi untuk malam ini aku memilih berhenti memikirkannya.

Aku ingin tidur dengan tenang.

Aku mengusap perutku sebelum mematikan lampu.

“Selamat tidur, Nak.”

Bayiku bergerak kecil.

Aku tersenyum.

Hari ini selesai.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, aku bisa tidur tanpa menangis.

Leave a Comment