Aku baru bisa duduk tenang sekarang.
Seharian ini rasanya panjang sekali.
Sejak bangun pagi, badanku memang sudah tidak enak. Kepalaku terasa berat dan tubuhku lemas. Aku juga beberapa kali merasa mual.
Mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu sering kelelahan.
Aku sempat berpikir untuk tidur lagi.
Tapi dari bawah aku sudah mendengar suara ibu mertua memanggil.
“Rani!”
Aku langsung bangun.
Aku sebenarnya ingin menjawab dari kamar, tapi aku tahu beliau tidak suka kalau harus memanggil dua kali.
Jadi aku turun perlahan.
“Iya, Bu?”
Beliau sedang berdiri di dekat ruang cuci.
“Hari ini cucian banyak. Sekalian lantai bawah dibersihkan.”
Aku sempat diam.
“Bu, badan saya lagi nggak enak.”
Beliau melihatku sebentar.
“Kalau cuma nggak enak badan jangan sedikit-sedikit tidur.”
Aku tidak menjawab.
Aku tahu kalau aku terus menjelaskan, percakapan itu hanya akan menjadi lebih panjang.
Jadi aku mulai mencuci.
Pekerjaan itu sebenarnya tidak langsung selesai. Ada beberapa pakaian, handuk, dan seprai.
Aku beberapa kali berhenti karena punggungku terasa tidak nyaman.
Aku melihat perutku.
Aku merasa bersalah kepada bayi di dalam kandunganku.
“Sebentar lagi selesai ya, Nak,” kataku pelan.
Setelah mencuci, aku mulai membereskan bagian bawah rumah.
Aku tidak melakukan semuanya sekaligus.
Aku pelan-pelan.
Tapi tetap saja ketika hampir siang, tubuhku terasa semakin lemas.
Aku akhirnya naik ke kamar.
Yang ada di pikiranku cuma satu.
Aku ingin berbaring sebentar.
Tapi baru saja aku masuk kamar dan duduk di pinggir tempat tidur, ibu mertua datang.
“Rani.”
Aku menoleh.
“Iya, Bu?”
“Kamarnya dikosongkan.”
Aku tidak langsung mengerti.
“Maksudnya?”
“Nanti ada tamu penting datang.”
Aku semakin bingung.
Aku melihat sekeliling kamar.
“Terus saya?”
“Cari tempat lain dulu.”
Aku diam.
Mungkin ibu melihat wajahku yang bingung, karena beliau kemudian berkata lagi,
“Jangan dibikin susah. Cuma kamar saja.”
Aku ingin menjelaskan bahwa aku sedang tidak enak badan.
Aku ingin mengatakan bahwa itu kamar yang kutempati bersama suamiku.
Tapi entah kenapa, semua kata-kata itu berhenti di tenggorokan.
Aku hanya mengangguk.
“Iya, Bu.”
Setelah beliau pergi, aku duduk cukup lama di pinggir tempat tidur.
Aku tidak tahu harus ke mana.
Akhirnya aku membawa beberapa barang ke kamar kecil di bagian belakang rumah. Biasanya ruangan itu dipakai untuk menyimpan beberapa barang, tapi masih ada tempat untuk duduk dan beristirahat.
Aku membersihkan sedikit bagian tempat tidur kecil di sana.
Lalu aku berbaring.
Saat itu aku benar-benar ingin menangis.
Bukan karena kamarnya.
Aku tahu kamar hanyalah ruangan.
Tapi hari ini aku merasa seperti keberadaanku bisa dipindahkan kapan saja kalau ada orang yang dianggap lebih penting.
Siang itu aku tertidur.
Aku tidak tahu berapa lama.
Aku terbangun ketika mendengar suara mobil masuk ke halaman.
Rumah mulai ramai.
Aku mendengar beberapa orang berbicara.
Aku penasaran.
Tapi tubuhku terlalu lelah untuk keluar.
Aku hanya diam di kamar kecil itu.
Beberapa saat kemudian Dimas menghubungiku lewat pesan.
Kamu di mana?
Aku membalas.
Di belakang.
Tidak lama kemudian dia datang.
Wajahnya terlihat bingung.
“Kok di sini?”
Aku menatapnya.
“Kamarnya dipakai tamu.”
Dia terdiam.
“Aku nggak tahu.”
Aku hanya mengangguk.
Aku tidak ingin menyalahkannya.
Hari itu aku sudah terlalu lelah untuk menjelaskan perasaanku.
Dimas duduk di sampingku.
Dia menyentuh dahiku.
“Kamu panas?”
“Sedikit.”
“Kamu bilang dari tadi sakit?”
“Iya.”
Dia terlihat menyesal.
Kemudian dia berkata akan mengambilkan makanan dan mengajakku beristirahat.
Sore hari aku akhirnya tahu bahwa tamu yang datang adalah kerabat jauh keluarga ibu mertua yang sedang berkunjung.
Mereka tidak tinggal lama.
Aku bahkan tidak bertemu mereka.
Menjelang malam, Dimas mengatakan bahwa kami sudah bisa kembali ke kamar.
Aku hanya tersenyum.
Aku kembali ke kamar perlahan.
Semuanya terlihat seperti biasa.
Tempat tidur kami.
Lemari.
Pakaian yang masih tergantung.
Tapi entah kenapa, malam ini kamar itu terasa berbeda.
Aku duduk di tempat tidur sambil memikirkan apa yang terjadi hari ini.
Mungkin bagi orang lain, ini masalah kecil.
Mungkin ibu memang hanya ingin menyediakan kamar yang bagus untuk tamunya.
Aku berusaha memahami itu.
Tapi aku berharap beliau setidaknya bertanya bagaimana keadaanku.
Hari ini aku sakit.
Aku sedang hamil.
Dan sejak pagi aku tetap mencoba melakukan apa yang diminta.
Mencuci.
Membereskan rumah.
Lalu pergi dari kamar ketika diminta.
Aku tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih.
Tapi aku juga manusia.
Aku juga bisa lelah.
Aku juga bisa sedih.
Malam ini Dimas akhirnya membawakan air hangat dan memintaku tidur lebih awal.
Sebelum mematikan lampu, dia berkata,
“Besok kalau kamu sakit, jangan dipaksakan kerja.”
Aku hanya menjawab pelan,
“Semoga besok aku bisa benar-benar istirahat.”
Dia menggenggam tanganku.
Dan untuk malam ini, aku memilih berhenti memikirkan semuanya.
Aku ingin tidur.
Aku ingin badanku membaik.
Karena besok adalah hari baru.
Dan entah apa pun yang akan terjadi, aku hanya ingin bisa menjaga diriku dan anakku dengan baik.